Kamis, 23 Mei 2013

BIOGRAFI HATTA RAJASA

Hatta muka 

Menjadi salah satu kiblat sosok pemimpin yang bersih sekaligus pintar, Hatta Rajasa pantas menyandang julukan Sang Maestro. Di nadinya, masih terisa asa membenahi bangsa.
Lansiran kajian Lembaga Survei Indonesia (LSI) setahun lalu setidaknya mengingatkan orang pada kerinduan pemimpin yang pintar, jujur, dan taat beragama. Lembaga riset opini publik paling terkemuka di Indonesia itu menyimpulkan Hatta Rajasa sebagai calon presiden yang paling bersih dari korupsi. Tentu ini bukan omong kosong belaka.
Hasil penelusuran LSI menyimpulkan, Hatta Rajasa menjadi calon presiden paling pintar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu berada pada ututan teratas dengan mengoleksi 86% hasil survai. Begitu pula soal bisa dipercaya atau bebas korupsi dan taat beragama, Hatta Rajasa mendapat poin tertinggi dibandingan Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.
Hal ini makin membuat orang bertanya, apa saja yang sudah dilakukannya? Apakah sekadar nimbrung dalam kabinet karena sudah menjadi besan Presiden SBY? Tentu tidak.
Penilaian objektif dapat terlihat dari seorang analisis politik lulusan Havard yangberbasis di Jakarta bernama  Kevin O’Rourke yang memunculkan istilah “Hattanomics”. Hingga dimuat di salah satu media terbesar dunia, Reuters, O’Rourke memperkenalkan istilah “Hattanomics”sebagai seperangkat kebijakan yang menurutnya dikendalikan Hatta Rajasa. Singat kata, Hattanomics berupa proteksionisme, restriksi perdagangan, dan pembatasan kepemilikan asing.
Bukti yang dijabarkan adalah kepemimpinan mengkoordinator ekonomi Indonesia dalam kabinet cukup berhasil membawa Indonesia pada kemandirian. Hatta yang menjabat Ketua Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) berusaha merealisasikan pembangunan mega proyek infrastruktur seantero nusantara. Dan, Presiden SBY juga menunjuknya memimpin tim evaluasi penyesuaian kontrak karya dan perjanjian karya pertambangan. Bea masuk alias pajak ekspor pada 65 jenis tambang mineral mentah merupakan salah satu gol visi nasionalisasi Hatta.
Namun lelaki berambut perak ini dengan rendah hati menuduh Hattanomics tak tepat sasaran. Dirinya hanya menjalankan tugas sebagai amanah rakyat. Indonesia  baginya sangat terbuka bagi investor asing seperti kebijakan MP3EI  memerlukan banyak investasi. Karenanya, butuh suntikan dari luar.
Negarawan Rendah Hati (katanya sih)
Lepas dari perkara wacana Hattanomics, rekam jejak Hatta sendiri tak diragukan. Lelaki kelahiran Palembang, 18 Desember 1953 ini sudah merasakan asam garam, baik dalam binis, politik hingga pejabat negara. Dia sebelumnya secara apik menjalankan tugas sebagai Menteri Sekretaris Negara (2007-2009), Menteri Perhubungan (2004-2007), dan Menteri Negara Riset dan Teknologi(2001-2004).
Padahal, saat kali pertama memilih jalan politik, insinyur Teknik Perminyakan ITB ini berani mengorbankan bisnisnya. Menurutnya, saat melakukan sesuatu, jangan ada dualisme. Fokus dan kerjakan sesuai dengan porsi dan tempatnya.
Saat itu, tahun 1999, baru bergolak reformasi, dia berpolitik setelah terlebih dulu berdialog dengan keluarga sebagai panggilan hati. Bukan cara cepat menggaet kekuasaan. Hatta memilih PAN sebagai kendaraan politik yang waktu itu dinakdoai sekaligus dibidani oleh Amien Rais.
Meski baru dalam kancah politik, pada Pemilu 1999 Hatta bisa memberi masukan besar. Saat itu terjadi kisruh antara kubu BJ Habibie dan Megawati Sukarnoputri. Hatta bersama Amien Rais aktif menggalang komunikasi dan lobi politik untuk meredam situasi panas saat itu dengan mengusung kekuatan “poros tengah” dan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden.
Di PAN sendiri, Hatta mulanya menjabat Ketua Departemen Sumber Daya Alam dan Enerji PAN. Setelah kongres I, Hatta terpilih menjadi Sekjen kemudian hasil Pemilu 1999 menempatkannya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari daerah pemilihan Bandung. Di lembaga legislatif itu, Hatta lantas terpilih menjadi ketua Fraksi Reformasi DPR. Kinerjanya profesional dan punya konsentrasi kuat membuat peran Hatta menonjol dalam lobi politik.
Hatta sedikit menuturkan ideologinya a dalam berpolitik ada dua hal penting yang perlu diperhatikan yakni  sikap konsisten yang disertai tingkat moralitas yang tinggi dan menjaga etika. “Boleh berbeda pendapat, tapi jangan menghujat,” ungkapnya.
Dari hasil Rakernas pada 10 – 11 Desember 2011 lalu, PAN secara aklamasi mendaulat Hatta sebagai satu-satunya calon presiden yang akan diusung pada pemilihan presiden tahun 2014. Hingga saat ini elektabilitas sampai ketokohan Hatta terus melonjak naik.

Hatta Rajasa Dewan Pendekar IPSI

            Medio Desember lalu, Menteri Koordinator Perekonomian ini menerima penganugerahan tanda kehormatan jasa diplomasi dari Pemerintah Korea Selatan, Gwanghwa Medal. Ini merupakan medali tertinggi di bidang diplomatik.
Penghargaan itu menambah deretan piagam yang sudah dia terima. “Bang Hatta sudah menerima sejumlah penghargaan. Dia pernah menerima penghargaan dari Amerika Serikat. Yang terbaru, ia menerima penghargaan dari Slovakia. Itu penting untuk pemimpin bangsa yang dinilai mampu oleh dunia, sehingga Indonesia jauh lebih dikenal lagi,” kata anggota DPRRI, Taslim Chaniago.
Taslim menambahkan, apa yang diberika dunia kepada Hatta adalah sebagai bentuk pengakuan atas prestasi kinerja, dedikasi dan kredibilitas Menko Perekonomian itu. “Dunia sudah mengakui kemampuan Hatta dibidang ekonomi dan politik. Jadi, wajar jika kader PAN secara final mendorong Hatta sebagai capres tunggal karena sangat mumpuni dari semua tokoh lintas partai dan semua capres lainnya,” tegasnya.

Biodata :
Nama lengkap : Ir. M. Hatta Radjasa
TTL  : Palembang, Sumatera Selatan, Jumat, 18 Desember 1953
Istri : Drg. Oktiniwati Ulfa Dariah Rajasa
Anak : M. Reza Radjasa, Siti Ruby Aliya Radjasa, Azimah Radjasa, Rasyid Radjasa
Hobby : membaca

Pendidikan
* Insinyur Teknik Perminyakan angkatan 1973 Institut Teknologi Bandung (ITB)
* Studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung (ITB) selama setahun, akan tetapi tidak dilanjutkan karena sibuk di partai politik dan menjadi Menristek

Jabatan dan Karir :
* 2010-sekarang: Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional
* 2009-sekarang: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II
* 2007-2009: Menteri Sekretaris Negara Kabinet Indonesia Bersatu
* 2004-2007: Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu
* 2001-2004: Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Gotong Royong
* 2000-2005: Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (DPP-PAN)
* 1999-2000: Ketua Fraksi Partai Reformasi DPR-RI.
* 1982-2000: Presiden Direktur Arthindo
* 1980-1983: Wakil Manager teknis PT. Meta Epsi
* 1977-1978: Teknisi Lapangan PT. Bina Patra Jaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar